Kuda lumping adalah sebuah tarian atau pertunjukan tradisional yang menggunakan properti anyaman berbentuk kuda.
Sejarah Tari Kuda Lumping (Jaranan)
Asal usul Tari kuda lumping sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari kuda lumping lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Jika kita kembali mengingat sejarah kerajaan Majapahit, aka nada kaitannya dengan kerajaan Madura dimana kala itu Kerajaan Wiraraja Madura memiliki hubungan yang dekat dengan Kerjaan Majapahit danjuga memiliki andil dalam kejayaan Kerajaan Majapahit. Karena kedekatan itulah merambah dalam segikesenianya juga, termasuk Tari Kuda Lumping atau Jaranan.
Kuda Lumping Sebagai Mata Pencaharian sebagian orang.
Sering dengan adanya pergantian zaman, kini jaranan tidak hanya digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan tradisional tetapi juga dapat dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di daerah Madura. Masyarakat Madura tidak asing dengan istilah kuda lumping. Dengan populernya budaya tradisional ini, dimanfaatkan oleh sebagian orang atau rumah industry untuk tetap melestarikannya sembari mencari nafkah.
Seperti salah satu UMKM yang kami temui di Kampung Sawah RT/RW 04/09 ini. Sejak berdiri dan diresmikannya Jembatan Suramadu, membuka peluang usaha untuk kebanyakan orang di pulau Madura terutama di daerah pesisir Bangkalan. Kita dapat menemui banyak usaha disepanjang jalan sebelum tol Suramadu. Kita juga dapat dengan mudah menemukan souvenir khas Madura tak terkecuali Kuda lumping.
UMKM Salam Barokah Tetap jaya ini berjalan sejak didirikan dan diresmikannya Jembatan Suramadu pada tahun 2009 silam. Bapak Badus, pemilik rmah produsi ini mengatakan, usaha yang dilakoninya tidak sebesar ini sebelumnya. Awalnya, pak Badus merupakan salah satu pekerja di rumah produksi milik pamannya selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Disana ia belajar cara membuat kerajinan kuda lumping ini. Dengan hanya diupah empat ribu rupiah per item yang dikerjakannya, ia juga dapat menikmati proses belajarnya sembari menabung untuk kemudian uang hasil dari jerih payahnya tersebut digunakan sebagai modal usahanya. “Ya itu empat ribu rupiah upah dari hasil jadi satu kuda lumping mbak, sudah jadinya ya hanya dibayar segitu” ujarnya. Mbak Mia, yang merupakan istri dari pak Badus ini juga menuturkan bahwa ia juga memulai karirnya dari proses belajarnya, “Saya dulu belajar sama almarhum kakak ipar saya, buat ini. Ya belajar. Tapi tidak duduk manis gitu mbak, langsung praktik”.
Produksi
Kuda lumping ini diproduksi sendiri di kediamannya. Proses pembuatan satu buah kuda lumping rupanya tidak cukup mudah, dimulai dari membuat pola pada ‘gedek’ atau biasa disebut dengan papan anyaman bamboo, memotong, memberi lem dan menjemur. Kemudian, masuk pada tahap pemberian lapisan gabus atau spons yang sebelumnya sudah dipola. Setelah pemasangan spons, dilanjutan dengan mamberikan lapisan kain yang telah disablon terlebih dahulu. Semua proses dilakukan dengan cara pengeleman. Setelah semua proses tersebut, dilanjutkan dengan merapikan pinggiran-pinggiran dengan menambahkan kain flannel. Kain flannel juga digunakan untuk hiasan. Tahap selanjutnya hanya menambahkan rambut-rambut yang terbuat dari benang wol berbagai warna. Penggunaan benang wol disebut untuk menggantikan penggunaan serat nanas sebagai rambut kuda lumping karena pada proses pengerjaan serat nanas dinilai cukup menyita waktu dan gatal di tangan sehingga tidak efisien.
Ada beberapa variasi kuda lumping. Kuda lumping dapat dibuat sesuai dengan keinginan pemesan. “Ada yang menngunakan kain batik khas Madura, ada yang kain batik biasa, atau juga ada yang pakai kain hitam polos kaya gini”. Harga yang ditawarkan pun juga berbeda, untuk penggunaan kain batik khas Madura harganya tentu lebih mahal dibanding menggunakan kain batik biasa atau kain polos.
Ukuran dari kuda kumping uni juga bervariasi. Mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Kuda lumping ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 11.500,- , ukuran sedang Rp. 30.000,- , ukuran jumbo Rp. 35.000,- sedangkan untuk ukuran yang paling kecil dijual dengan harga Rp. 10.000,- kuda lumping ukuran mini ini diproduksi sebagai souvenir pernikahan ataupu acara-acara tertentu. Namun, pasangan suami istri ini sudah tidak lagi memproduksi ukuran mini ini karena susahnya proses pembuatan.
Rumah produksi ini mendapatkan bahan baku dari Surabaya.
Sejarah Tari Kuda Lumping (Jaranan)
Asal usul Tari kuda lumping sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari kuda lumping lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Jika kita kembali mengingat sejarah kerajaan Majapahit, aka nada kaitannya dengan kerajaan Madura dimana kala itu Kerajaan Wiraraja Madura memiliki hubungan yang dekat dengan Kerjaan Majapahit danjuga memiliki andil dalam kejayaan Kerajaan Majapahit. Karena kedekatan itulah merambah dalam segikesenianya juga, termasuk Tari Kuda Lumping atau Jaranan.
Kuda Lumping Sebagai Mata Pencaharian sebagian orang.
Sering dengan adanya pergantian zaman, kini jaranan tidak hanya digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan tradisional tetapi juga dapat dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di daerah Madura. Masyarakat Madura tidak asing dengan istilah kuda lumping. Dengan populernya budaya tradisional ini, dimanfaatkan oleh sebagian orang atau rumah industry untuk tetap melestarikannya sembari mencari nafkah.
Seperti salah satu UMKM yang kami temui di Kampung Sawah RT/RW 04/09 ini. Sejak berdiri dan diresmikannya Jembatan Suramadu, membuka peluang usaha untuk kebanyakan orang di pulau Madura terutama di daerah pesisir Bangkalan. Kita dapat menemui banyak usaha disepanjang jalan sebelum tol Suramadu. Kita juga dapat dengan mudah menemukan souvenir khas Madura tak terkecuali Kuda lumping.
UMKM Salam Barokah Tetap jaya ini berjalan sejak didirikan dan diresmikannya Jembatan Suramadu pada tahun 2009 silam. Bapak Badus, pemilik rmah produsi ini mengatakan, usaha yang dilakoninya tidak sebesar ini sebelumnya. Awalnya, pak Badus merupakan salah satu pekerja di rumah produksi milik pamannya selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Disana ia belajar cara membuat kerajinan kuda lumping ini. Dengan hanya diupah empat ribu rupiah per item yang dikerjakannya, ia juga dapat menikmati proses belajarnya sembari menabung untuk kemudian uang hasil dari jerih payahnya tersebut digunakan sebagai modal usahanya. “Ya itu empat ribu rupiah upah dari hasil jadi satu kuda lumping mbak, sudah jadinya ya hanya dibayar segitu” ujarnya. Mbak Mia, yang merupakan istri dari pak Badus ini juga menuturkan bahwa ia juga memulai karirnya dari proses belajarnya, “Saya dulu belajar sama almarhum kakak ipar saya, buat ini. Ya belajar. Tapi tidak duduk manis gitu mbak, langsung praktik”.
Produksi
Kuda lumping ini diproduksi sendiri di kediamannya. Proses pembuatan satu buah kuda lumping rupanya tidak cukup mudah, dimulai dari membuat pola pada ‘gedek’ atau biasa disebut dengan papan anyaman bamboo, memotong, memberi lem dan menjemur. Kemudian, masuk pada tahap pemberian lapisan gabus atau spons yang sebelumnya sudah dipola. Setelah pemasangan spons, dilanjutan dengan mamberikan lapisan kain yang telah disablon terlebih dahulu. Semua proses dilakukan dengan cara pengeleman. Setelah semua proses tersebut, dilanjutkan dengan merapikan pinggiran-pinggiran dengan menambahkan kain flannel. Kain flannel juga digunakan untuk hiasan. Tahap selanjutnya hanya menambahkan rambut-rambut yang terbuat dari benang wol berbagai warna. Penggunaan benang wol disebut untuk menggantikan penggunaan serat nanas sebagai rambut kuda lumping karena pada proses pengerjaan serat nanas dinilai cukup menyita waktu dan gatal di tangan sehingga tidak efisien.
Ada beberapa variasi kuda lumping. Kuda lumping dapat dibuat sesuai dengan keinginan pemesan. “Ada yang menngunakan kain batik khas Madura, ada yang kain batik biasa, atau juga ada yang pakai kain hitam polos kaya gini”. Harga yang ditawarkan pun juga berbeda, untuk penggunaan kain batik khas Madura harganya tentu lebih mahal dibanding menggunakan kain batik biasa atau kain polos.
Ukuran dari kuda kumping uni juga bervariasi. Mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Kuda lumping ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 11.500,- , ukuran sedang Rp. 30.000,- , ukuran jumbo Rp. 35.000,- sedangkan untuk ukuran yang paling kecil dijual dengan harga Rp. 10.000,- kuda lumping ukuran mini ini diproduksi sebagai souvenir pernikahan ataupu acara-acara tertentu. Namun, pasangan suami istri ini sudah tidak lagi memproduksi ukuran mini ini karena susahnya proses pembuatan.
Rumah produksi ini mendapatkan bahan baku dari Surabaya.
Saat Suramadu mulai diresmikan
tahun 2004 kami mulai memikirkan usaha ini dan berdirilah usaha kami di tahun
2009. Bahan – bahannya kami dapat dari Pasar-Pasar Grosir. Tabing kami dapat
dari Tanah Merah, Jakarta. Kalau untuk bahan yang lain kami ambil di Surabaya.
Kain - kain kami ambil di Pasar Bong dan Kramat Gantung. Sedangkan untuk
motif-motif dan rambut kami mengambil di Pasar Kapasan.
Kain – Kain kami potong sendiri,
pertama kami ukur terlebih dulu, lalu dipotong dan kemudian di sablon. Kami ada
beberapa pekerja, ada yang bagian memotong tabing, memasang rambut, menyablon,
dan sebagainya. Untuk pemasaran, kami sebar di daerah Suramadu, Bangkalan,
Pamekasan, Surabaya, dan Ponorogo. Kami juga menjual Odheng khas Madura mulai
dari ukuran anak – anak sampai dewasa.
Untuk mengembangkan usaha ini
bisa dibilang susah susah gampang. Kenapa? Karena saat ini banyak yang
memproduksinya sendiri. Sehari kami memproduksi -/+ 20 buah per orang. Paling
susah adalah kegiatan memotong Tabing dikarenakan kami masih menerapkan
memotong secara manual, bukan menggunakan mesin.
Modal juga menjadi factor, bahan
– bahan yang dibuat juga memerlukan modal yang lumayan untuk mendapatkan hasil
yang bagus. Kami menggunakan Tabing Asli bukan menggunakan Karton karena kalau
menggunakan Karton tidak akan tahan terhadap cuaca panas dan hujan.
PEMETAAN POTENSI
PEMETAAN POTENSI PRODUKSI MITRA
PEMETAAN POTENSI JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
MANAJEMEN BISNIS
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
PROSES PRODUKSI
JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
ASPEK MANAJEMEN USAHA






PEMETAAN POTENSI
PEMETAAN POTENSI PRODUKSI MITRA
PEMETAAN POTENSI JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
MANAJEMEN BISNIS
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
PROSES PRODUKSI
JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
ASPEK MANAJEMEN USAHA







Tidak ada komentar:
Posting Komentar