|
ASPEK
MANAJEMEN USAHA
|
-
MANAJEMEN
PERMODALAN DAN KEUANGAN USAHA
Masalah terbesar yang terjadi pada
rumah produksi ini adalah kekuarangan modal
|
:
|
Rumah
prosuksi dapat meminimalisir belanja bahan baku, atau mengganti bahan baku
dengan harga yang lebih murah untuk menghemat biaya/ pengeluaran. Rumah
prosuksi juga dapt bergabung dalam koperasi yag ada dalam lingkungan tersebut.
|
|
-
MANAJEMEN
ORGANISASI USAHA
-
|
:
|
-
|
|
|
-
KEBERADAAN
SERTIFIKASI (PIRT/SNI (MANAJEMEN DAN PRODUK)/HPCP)
Tidak adanya izin atau sertifikasi SNI
|
:
|
Produk
yang dipasarkan ini adalah produk berbasis daerah, dan salah satu syarat
untuk mengurus surat perizinan sertifikasi SNI adalah dengan adanya standar
yang siudah ditetapkan untuk suatu produk, maka produk ini tidak bisa
mendapatkan sertifikasi izin SNI.
|
Keuletan Warga Bangkalan ini Jadikan Kuda Lumping Sebagai Cinderamata Khas Madura
Minggu, 20 Mei 2018
ASPEK MANAJEMEN USAHA
JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
|
JARINGAN BISNIS DAN
PEMASARAN
|
-
PENGEMBANGAN
PASAR (LOKAL/EKSPOR)
Masih belum mencangkup ranah internasional
|
:
|
Rumah
produksi seharusnya dapat memanfaatkan adanya teknologi untuk merambah ke
ranah internasional. Ditambah lagi dengan memperbaiki kualitas produk yang
cocok untuk masuk dalam pasar internasiional.
|
|
-
STRATEGI
PEMASARAN (PEMANFAATAN TIK DALAM PROMOSI)
Belum memanfaatkan TIK dalam promosi, belum menjamah
perdagangan secara online
|
:
|
Rumah
produksi bisa meanfaatkan teknologi untuk membuka pasar online. Jika ada kesuliatan
dalam mengembangkan pasar online, bisa menghubungi ahliu untuk bekerja sama.
|
|
|
-
PENGEMBANGAN/PENGUATAN
JARINGAN BISNIS
-
|
:
|
-
|
PROSES PRODUKSI
|
ASPEK
|
PERMASALAHAN YANG ADA DI
MITRA
|
REKOMENSASI SOLUSI SETIAP
PERMASALAHAN
|
|
|
PROSES PRODUKSI
|
-
TEKNOLOGI
YANG DIGUNAKAN UMKM/MITRA
Tidak ada pemanfaatan TTG. Masih diproduksi secara manual
menggunakan gunting dan kekuatan tangan
|
:
|
Akan
lebih baik dan dapat menghemat waktu apabiila menggunakan TTG berupa mesin
pemotong.
|
|
-
PROSES
PRODUKSI/ALUR/METODE YANG DITERAPKAN
Kekurangan alat untuk mengelem (lem tembak), dan memotong
(gunting). sehingga karyawan harus mempunyai alat sendiri
|
:
|
Mencukupi
kekuragnan alat. Dapat membeli alat bekas untuk menghemat biaya
|
|
|
-
KAPASITAS,
KUALITAS, KEMASAN DAN DESAIN PRODUK
Masih ada keterbatasan kapasitas produksi, untuk kualitas
sudah cukup bagus karena sudah menggunakan anyaman bambu bukan karton, desain
produk sudah bagus
|
:
|
Pemilik
rumah produksi bisa memanfaatkan halaman rumahnya untuk kegiatan produksi
jadi dapat memproduksi lebih banyak. Ditambah lagi dengan banyak karyaawan
yang dapat mengerjakannya dirumah, jadi diharapkan dapat memproduksi lebih
banyak produk.
|
|
|
-
KETERSEDIAAN
BAHAN BAKU
Tidak ada masalah dalam ketersediaan
bahan baku. Karena bahan baku mudah di dapat. Permasalahannya terletak pada
jumlah minimal bahan baku yang harus dibeli dan transportasi untuk membawa
bahan baku ke rumah produksi karena rumah produksi berada di dalam kampung
padat penduduk.
|
:
|
Rumah
produksi dapat menyewa transportasi untuk mengangkut bahan baku dari Surabaya
yang sebelumnya sudah terlebih dahulu
menghubungi pihak terkait
|
|
Selasa, 08 Mei 2018
MANAJEMEN BISNIS
MANAJEMEN BISNIS
|
-
MANAJEMEN PERMODALAN DAN KEUANGAN USAHA
|
:
|
Modal didapatkan dengan cara memutar
uang,
|
-
ADA MANAJEMN TENAGA KERJA/ KARYAWAN
|
:
|
-
|
|
-
JUMLAH KARYAWAN DAN METODE PENINGKATAN
KAPASITAS KARYAWAN
|
:
|
Jumlah karyawan : lima orang
|
|
-
MEMILIKI SERTIFIKASI (PIRT/SNI (MANAJEMEN
DAN PRODUK)/HPCP)
|
:
|
-
|
|
-
ADA MEKANISME “QUALITY CONTROL”
|
:
|
Dilakukan dengan tradisional/manual
dengan peningkatan kualitas dari waktu ke waktu
|
Selasa, 24 April 2018
PEMETAAN POTENSI JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
|
JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
|
-
KAPASITAS PEMASARAN PRODUK
|
:
|
Dalam sekali pengiriman mulai dari
100-400 buah.
|
|
-
LUASAN WILAYAH PEMASARAN
|
:
|
Menjangkau ke seluruh kabupaten di Pulau
Madura, dan beberapa wilayah di pulau jawa
|
|
|
-
JARINGAN PEMASARAN
|
:
|
Penjual/pemasok di berbagai daerah.
|
|
|
-
STRATEGI/METODE/ALAT PEMASARAN DAN
PROMOSI
|
:
|
Strategi pemasaran dan produksi dengan
melalui jaringan kemitraan dengan pemasok. Belum ada kegiatan promosi yang
lebih lanjut.
|
|
|
-
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN
KOMUNIKASI (TIK) DALAM ASPEK BISNIS
|
:
|
Sejauh ini hanya memanfaatkan fitur
telepon, sms dan whatsapp pada ponsel.
|
|
|
-
HARGA PRODUK (BERSAING ATAU TIDAK DG
PRODUK SEJENIS DARI TEMPAT LAIN)
|
|
Bersaing dengan rumah produksi lain.
Karena bahan baku yangdigunakan juga berbeda dengan rumah produksi lainnya.
|
|
|
-
SUDAH ADA PASAR EKSPOR (NEGARA MANA ?;
LANGSUNG ATAU SUB KONTRAK)
|
:
|
Tidak ada. Sejauh ini hanya keluar pulau
Madura.
|
|
|
-
IKUT DALAM ORGANISASI BINIS (SEBUTKAN DAN
DAMPAKNYA THD PENGUATAN UNIT BISNIS ?)
|
:
|
-
|
PEMETAAN POTENSI PRODUKSI MITRA
|
ASPEK
|
POTENSI YANG ADA DI MITRA
|
|
KONDISI POTENSI SAAT INI
|
|
PRODUKSI
|
-
KEBARUAN DAN EFEKTIVITAS TEKNOLOGI (TTG)
YANG DIMANFAATKAN
Untuk saat ini, belum ada alat khusus untuk
memproduksi kuda lumping. Hampir semua proses dilakukan dengan manual. Belum
ada teknologi yang menjamah proses produksi ini.
|
:
|
Masih menggunakan pisau dan kekuatan
tangan untuk memotong anyaman bambu.
|
|
-
ALUR METODE/CARA/PROSES PRODUKSI
Rumah produksi memiliki potensi untuk melakukan
pengerjaan dengan alat pemotong anyaman bambu
|
:
|
1.
Memberi pola pada anyaman bambu,
mengelem, menjemur
2.
Melapisi dengan spons
3.
Membungkus kerangka dengan kain yang
sudah disablon
4.
Merapikan pinggiran kerangka dengan kain
flannel
5.
Memasang rambut-rambut yang terbuat dari
benang wol
6.
Menghias dengan pernak pernik
|
|
|
-
KAPASITAS KARYAWAN
Rumah produksi dapat menampung 5-7
karyawan
|
:
|
Untuk sejauh ini, produksi dapat
dilakukan di rumah masing-masing karyawan. Tidak harus dilakukan di rumah
produksi karena kurangnya ruang yang cukup untuk menampung karyawan.
Pada awalnya, rumah produksi ini memiliki
lebih dari 10 karyawan. Namun seiring waktu dan hal lain, hanya tersisa lima
karyawan untuk saat ini.
|
|
|
-
KAPASITAS PRODUKSI
Dengan jumlah karyawan yang banyak, dan
fasilitas ruang pengerjaan seharusnya rumah produksi ini dapat memproduksi
lebih dari 400 buah produk.
|
:
|
Rumah poduksi ini dapat memproduksi
setidaknya 200-400 buah dalam masa satu bulan pengerjaan.
|
|
|
- KUALITAS DAN DIVERSIVIKASI/DESAIN PRODUK
Untuk desain produk rumah produksi ini dapat melakukan
pencarian informasi terkait desain yang sedang menjadi trend saat itu.
|
:
|
Kualitas produk sudah cukup bagus, karena
sudah beberapa kali mengalami perubahan terkait dengan pemilihan bahan yang
cocok dan awet untuk produk. Begitupun dengan desain produk yang kami nilai
sudah cukup menarik perhatian konsumen.
|
|
|
-
KUALITAS KEMASAN
Untuk
rumah produksi yang sedang berkembang, dapat menggunakan bungkus plastik.
|
:
|
Souvenir ini tidak dikemas dalam kemasan
khusus.
|
|
|
-
KETERSEDIAAN DAN KUALITAS BAHAN BAKU
Dapat melakukan upgrading terhadap kualittas bahan baku
|
:
|
Bahan baku didapat dari Surabaya. Untuk
sejauh ini tidak ada kendala dalam ketersediaan bahan baku.
|
Minggu, 25 Maret 2018
Souvenir Kuda Lumping Madura
Kuda lumping adalah sebuah tarian atau pertunjukan tradisional yang menggunakan properti anyaman berbentuk kuda.
Sejarah Tari Kuda Lumping (Jaranan)
Asal usul Tari kuda lumping sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari kuda lumping lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Jika kita kembali mengingat sejarah kerajaan Majapahit, aka nada kaitannya dengan kerajaan Madura dimana kala itu Kerajaan Wiraraja Madura memiliki hubungan yang dekat dengan Kerjaan Majapahit danjuga memiliki andil dalam kejayaan Kerajaan Majapahit. Karena kedekatan itulah merambah dalam segikesenianya juga, termasuk Tari Kuda Lumping atau Jaranan.
Kuda Lumping Sebagai Mata Pencaharian sebagian orang.
Sering dengan adanya pergantian zaman, kini jaranan tidak hanya digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan tradisional tetapi juga dapat dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di daerah Madura. Masyarakat Madura tidak asing dengan istilah kuda lumping. Dengan populernya budaya tradisional ini, dimanfaatkan oleh sebagian orang atau rumah industry untuk tetap melestarikannya sembari mencari nafkah.
Seperti salah satu UMKM yang kami temui di Kampung Sawah RT/RW 04/09 ini. Sejak berdiri dan diresmikannya Jembatan Suramadu, membuka peluang usaha untuk kebanyakan orang di pulau Madura terutama di daerah pesisir Bangkalan. Kita dapat menemui banyak usaha disepanjang jalan sebelum tol Suramadu. Kita juga dapat dengan mudah menemukan souvenir khas Madura tak terkecuali Kuda lumping.
UMKM Salam Barokah Tetap jaya ini berjalan sejak didirikan dan diresmikannya Jembatan Suramadu pada tahun 2009 silam. Bapak Badus, pemilik rmah produsi ini mengatakan, usaha yang dilakoninya tidak sebesar ini sebelumnya. Awalnya, pak Badus merupakan salah satu pekerja di rumah produksi milik pamannya selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Disana ia belajar cara membuat kerajinan kuda lumping ini. Dengan hanya diupah empat ribu rupiah per item yang dikerjakannya, ia juga dapat menikmati proses belajarnya sembari menabung untuk kemudian uang hasil dari jerih payahnya tersebut digunakan sebagai modal usahanya. “Ya itu empat ribu rupiah upah dari hasil jadi satu kuda lumping mbak, sudah jadinya ya hanya dibayar segitu” ujarnya. Mbak Mia, yang merupakan istri dari pak Badus ini juga menuturkan bahwa ia juga memulai karirnya dari proses belajarnya, “Saya dulu belajar sama almarhum kakak ipar saya, buat ini. Ya belajar. Tapi tidak duduk manis gitu mbak, langsung praktik”.
Produksi
Kuda lumping ini diproduksi sendiri di kediamannya. Proses pembuatan satu buah kuda lumping rupanya tidak cukup mudah, dimulai dari membuat pola pada ‘gedek’ atau biasa disebut dengan papan anyaman bamboo, memotong, memberi lem dan menjemur. Kemudian, masuk pada tahap pemberian lapisan gabus atau spons yang sebelumnya sudah dipola. Setelah pemasangan spons, dilanjutan dengan mamberikan lapisan kain yang telah disablon terlebih dahulu. Semua proses dilakukan dengan cara pengeleman. Setelah semua proses tersebut, dilanjutkan dengan merapikan pinggiran-pinggiran dengan menambahkan kain flannel. Kain flannel juga digunakan untuk hiasan. Tahap selanjutnya hanya menambahkan rambut-rambut yang terbuat dari benang wol berbagai warna. Penggunaan benang wol disebut untuk menggantikan penggunaan serat nanas sebagai rambut kuda lumping karena pada proses pengerjaan serat nanas dinilai cukup menyita waktu dan gatal di tangan sehingga tidak efisien.
Ada beberapa variasi kuda lumping. Kuda lumping dapat dibuat sesuai dengan keinginan pemesan. “Ada yang menngunakan kain batik khas Madura, ada yang kain batik biasa, atau juga ada yang pakai kain hitam polos kaya gini”. Harga yang ditawarkan pun juga berbeda, untuk penggunaan kain batik khas Madura harganya tentu lebih mahal dibanding menggunakan kain batik biasa atau kain polos.
Ukuran dari kuda kumping uni juga bervariasi. Mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Kuda lumping ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 11.500,- , ukuran sedang Rp. 30.000,- , ukuran jumbo Rp. 35.000,- sedangkan untuk ukuran yang paling kecil dijual dengan harga Rp. 10.000,- kuda lumping ukuran mini ini diproduksi sebagai souvenir pernikahan ataupu acara-acara tertentu. Namun, pasangan suami istri ini sudah tidak lagi memproduksi ukuran mini ini karena susahnya proses pembuatan.
Rumah produksi ini mendapatkan bahan baku dari Surabaya.
Sejarah Tari Kuda Lumping (Jaranan)
Asal usul Tari kuda lumping sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari kuda lumping lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Jika kita kembali mengingat sejarah kerajaan Majapahit, aka nada kaitannya dengan kerajaan Madura dimana kala itu Kerajaan Wiraraja Madura memiliki hubungan yang dekat dengan Kerjaan Majapahit danjuga memiliki andil dalam kejayaan Kerajaan Majapahit. Karena kedekatan itulah merambah dalam segikesenianya juga, termasuk Tari Kuda Lumping atau Jaranan.
Kuda Lumping Sebagai Mata Pencaharian sebagian orang.
Sering dengan adanya pergantian zaman, kini jaranan tidak hanya digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan tradisional tetapi juga dapat dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di daerah Madura. Masyarakat Madura tidak asing dengan istilah kuda lumping. Dengan populernya budaya tradisional ini, dimanfaatkan oleh sebagian orang atau rumah industry untuk tetap melestarikannya sembari mencari nafkah.
Seperti salah satu UMKM yang kami temui di Kampung Sawah RT/RW 04/09 ini. Sejak berdiri dan diresmikannya Jembatan Suramadu, membuka peluang usaha untuk kebanyakan orang di pulau Madura terutama di daerah pesisir Bangkalan. Kita dapat menemui banyak usaha disepanjang jalan sebelum tol Suramadu. Kita juga dapat dengan mudah menemukan souvenir khas Madura tak terkecuali Kuda lumping.
UMKM Salam Barokah Tetap jaya ini berjalan sejak didirikan dan diresmikannya Jembatan Suramadu pada tahun 2009 silam. Bapak Badus, pemilik rmah produsi ini mengatakan, usaha yang dilakoninya tidak sebesar ini sebelumnya. Awalnya, pak Badus merupakan salah satu pekerja di rumah produksi milik pamannya selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Disana ia belajar cara membuat kerajinan kuda lumping ini. Dengan hanya diupah empat ribu rupiah per item yang dikerjakannya, ia juga dapat menikmati proses belajarnya sembari menabung untuk kemudian uang hasil dari jerih payahnya tersebut digunakan sebagai modal usahanya. “Ya itu empat ribu rupiah upah dari hasil jadi satu kuda lumping mbak, sudah jadinya ya hanya dibayar segitu” ujarnya. Mbak Mia, yang merupakan istri dari pak Badus ini juga menuturkan bahwa ia juga memulai karirnya dari proses belajarnya, “Saya dulu belajar sama almarhum kakak ipar saya, buat ini. Ya belajar. Tapi tidak duduk manis gitu mbak, langsung praktik”.
Produksi
Kuda lumping ini diproduksi sendiri di kediamannya. Proses pembuatan satu buah kuda lumping rupanya tidak cukup mudah, dimulai dari membuat pola pada ‘gedek’ atau biasa disebut dengan papan anyaman bamboo, memotong, memberi lem dan menjemur. Kemudian, masuk pada tahap pemberian lapisan gabus atau spons yang sebelumnya sudah dipola. Setelah pemasangan spons, dilanjutan dengan mamberikan lapisan kain yang telah disablon terlebih dahulu. Semua proses dilakukan dengan cara pengeleman. Setelah semua proses tersebut, dilanjutkan dengan merapikan pinggiran-pinggiran dengan menambahkan kain flannel. Kain flannel juga digunakan untuk hiasan. Tahap selanjutnya hanya menambahkan rambut-rambut yang terbuat dari benang wol berbagai warna. Penggunaan benang wol disebut untuk menggantikan penggunaan serat nanas sebagai rambut kuda lumping karena pada proses pengerjaan serat nanas dinilai cukup menyita waktu dan gatal di tangan sehingga tidak efisien.
Ada beberapa variasi kuda lumping. Kuda lumping dapat dibuat sesuai dengan keinginan pemesan. “Ada yang menngunakan kain batik khas Madura, ada yang kain batik biasa, atau juga ada yang pakai kain hitam polos kaya gini”. Harga yang ditawarkan pun juga berbeda, untuk penggunaan kain batik khas Madura harganya tentu lebih mahal dibanding menggunakan kain batik biasa atau kain polos.
Ukuran dari kuda kumping uni juga bervariasi. Mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Kuda lumping ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 11.500,- , ukuran sedang Rp. 30.000,- , ukuran jumbo Rp. 35.000,- sedangkan untuk ukuran yang paling kecil dijual dengan harga Rp. 10.000,- kuda lumping ukuran mini ini diproduksi sebagai souvenir pernikahan ataupu acara-acara tertentu. Namun, pasangan suami istri ini sudah tidak lagi memproduksi ukuran mini ini karena susahnya proses pembuatan.
Rumah produksi ini mendapatkan bahan baku dari Surabaya.
Saat Suramadu mulai diresmikan
tahun 2004 kami mulai memikirkan usaha ini dan berdirilah usaha kami di tahun
2009. Bahan – bahannya kami dapat dari Pasar-Pasar Grosir. Tabing kami dapat
dari Tanah Merah, Jakarta. Kalau untuk bahan yang lain kami ambil di Surabaya.
Kain - kain kami ambil di Pasar Bong dan Kramat Gantung. Sedangkan untuk
motif-motif dan rambut kami mengambil di Pasar Kapasan.
Kain – Kain kami potong sendiri,
pertama kami ukur terlebih dulu, lalu dipotong dan kemudian di sablon. Kami ada
beberapa pekerja, ada yang bagian memotong tabing, memasang rambut, menyablon,
dan sebagainya. Untuk pemasaran, kami sebar di daerah Suramadu, Bangkalan,
Pamekasan, Surabaya, dan Ponorogo. Kami juga menjual Odheng khas Madura mulai
dari ukuran anak – anak sampai dewasa.
Untuk mengembangkan usaha ini
bisa dibilang susah susah gampang. Kenapa? Karena saat ini banyak yang
memproduksinya sendiri. Sehari kami memproduksi -/+ 20 buah per orang. Paling
susah adalah kegiatan memotong Tabing dikarenakan kami masih menerapkan
memotong secara manual, bukan menggunakan mesin.
Modal juga menjadi factor, bahan
– bahan yang dibuat juga memerlukan modal yang lumayan untuk mendapatkan hasil
yang bagus. Kami menggunakan Tabing Asli bukan menggunakan Karton karena kalau
menggunakan Karton tidak akan tahan terhadap cuaca panas dan hujan.
PEMETAAN POTENSI
PEMETAAN POTENSI PRODUKSI MITRA
PEMETAAN POTENSI JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
MANAJEMEN BISNIS
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
PROSES PRODUKSI
JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
ASPEK MANAJEMEN USAHA






PEMETAAN POTENSI
PEMETAAN POTENSI PRODUKSI MITRA
PEMETAAN POTENSI JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
MANAJEMEN BISNIS
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
PROSES PRODUKSI
JARINGAN BISNIS DAN PEMASARAN
ASPEK MANAJEMEN USAHA






Langganan:
Komentar (Atom)
